MENAKAR KEPEKAAN DI TENGAH PANDEMI 18Feb

MENAKAR KEPEKAAN DI TENGAH PANDEMI

Dunia memang sedang gaduh. Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) berhasil menculik perhatian semua kalangan. Tidak hanya menguji sektor kesehatan, dampak Covid-19 telah menggerogoti ekonomi dan ketahanan nasional. Bahkan, saat ini sisi humanisme dan solideritas kita juga terus diuji.

 

 

Sejak pertama kali dilaporkan singgah di bumi Khatulistiwa, Covid-19 belum juga reda. Jika melihat statistik yang dilaporkan pemerintah, pandemi ini memang mengkhawatirkan. Angka positif Covid-19 terus bertambah, sementara yang dinyatakan sembuh belum signifikan. Satu lagi, rasio kematiannya cukup tinggi, melampaui rerata rasio kematian dunia.

 

Derivasi dampak Covid-19 juga semkin dirasakan. Bukan hanya tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pandemi ini juga telah menggerus kepekaan sosial kita. Sebut saja berita pilu tentang Ibu Yuli, warga Kota Serang yang meninggal karena kelaparan di tengah pandemi ini. Padahal, Ibu Yuli dan mereka yang belum beruntung secara ekonomi adalah tanggung jawab kita semua. Abainya kita terhadap mereka, bahkan bisa disebut sebagai pendusta agama. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maun [107] ayat 1-3:

 

Artinya: (1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  (2) Itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

 

Rasulullah saw. telah mencontohkan bagaimana hubungan sosial dibangun secara intim dengan orang-orang miskin. Beliau menaruh perhatian besar terhadap mereka. Tidak pernah menjauhi, tapi justru akrab karena rasa cinta terhadap mereka. Beliau tahu bahwa di dalam diri orang miskin ada berkah yang sangat besar bila kita mampu berbagi kebahagiaan dengan mereka.

 

Dari Abu Hurairah -ra?iyall?hu 'anhu- secara marf?', "Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang miskin bagaikan orang yang berjihad di jalan Allah." Aku (perawi) mengira beliau bersabda, "Dan bagaikan orang yang salat tanpa kenal lelah dan bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus".  [Muttafaq 'alaih].

 

Covid-19 memang ujian. Tapi tidak elok jika pandemi ini sampai mematikan kepekaan terhadap sekitar. Apapun pemahaman dan argumentasi kita tentang Covid-19, menengok tetangga tidak ada salahnya, dengan catatan tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah. Alih-alih kita berdebat, bahkan mengumpat, lebih baik kita saling menyemangati dan membantu orang-orang terdekat. Musibah Ibu Yuli sudah cukup untuk dijadikan pelajaran, agar tidak ada lagi kejadian serupa, agar kita semakin kuat.

 

Berat untuk mengatahui jika sekarang kita sedang menghadapi pamdemi ini. Kesabaran dan solidaritas kita tengah di uji. Saat ini, pilihannya hanya dua, 1) kita bisa bersama melewati pandemi ini sebagai sebuah bangsa; atau 2) kita akan kalah dua kali, kalah oleh pandemi dan kalah karena kita gagal menghadapi Covid-19 dengan tidak peka, tidak merangkul, dan tidak saling menguatkan satu sama lain.

Wallahu a'lam.

Penulis: Ahmad Hamdani, S.Pd. (Waka Akademik MAN 2 Serang)

 

Share: